Assalamu’alaikum … Bidadara Surgaku
Salam kembali dari bidadari surgawi yang turun ke bumi,
Terjuntai untuk sang pemberi salam : Pahlawan Jiwaku
Belum ada wajah yang kulihat, yang terdengar hanya suaramu yang lembut
Belum ada pertemuan, yang terdengar hanya suara-suara merdumu
Yang terucap hanya kata-kata manismu, yang tertulis melalui surat-suratmu
Aku berdiri di sini untukmu, membantu mewujudkan idealismemu
Impian-impianmu, harapan-harapanmu, juga cita dan cintamu
Tak ada yang kulakukan selain berdoa untukmu, Bidadara Surgaku
Tiada suara berkata, ada kata tanpa sua
Yang ada hanya goresan pena, yang mampu mewakili kata jiwa
Meski peertemuan belum pernah ada, meski hanya suaramu yang kudengar
Meski hany goresan penamu yang terbaca
Bahwa aku menerimamu sebagaimana engkau adanya
Dan, aku menyayangimu apa adanya
Semoga suatu saat kita dipertemukan
Sekian dulu surat dariku. Semoga suratku ini mampu memberi kebahagiaan hari esokmu
Wassalamu’alaikum ...
Bidadara Surgaku
Your Beautiful goddess
Berlian merupakan batuan yang telah mengalami tekanan yang besar dan kuat, digesek dan dipotong berulang kali, sehingga bernilai tinggi dan mahal. Bila anda saat ini sedang mengalami tekanan berat dalam hidup anda, sedang mengalami “gesekan” dan hati “teriris”, maka sesungguhnya Anda sedang ditempa menjadi Berlian. Jalani dengan bersyukur, suatu hari Anda akan menjadi “Berlian” yang bernilai Tinggi. (Kata Bijak Kata Mutiara Anton Huang).
Minggu, 26 September 2010
Sabtu, 25 September 2010
Kisah indah Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah ra
Kisah indah Nabi Muhammad saw dan Siti Khadijah ra. selalu berkesan untuk dibaca. Dan entah mengapa aku tak pernah bosan membacanya.
tahu dengan lagu ini..?
"Siti Khadijah mujahidah solehah.. Agung jasamu dipersada sejarah.. Pemergianmu ditangisi nabi.. Hingga kini tiada pengganti...
Sunyi jalan menuju Allah.. Menggamit hati mencari teman.. Indah jalan menuju Allah.. Jika teman seperti Khadijah.. Masih ada lagi..."
Cinta sejati dan kesetiaan mencintai diukur setelah perkawinan, bahkan lebih terbukti setelah kepergian yang dicintai. Kendati Nabi Muhammad saw. Sangat mencintai Aisyah ra., namun cinta beliau kepada Siti Khadijah ra. pada hakekatnya melebihi cintanya beliau kepada Aisyah ra., bahkan cinta itu melebihi semua cinta yang dikenal umat manusia terhadap lawan jenisnya. Sementara hikayat tentang cinta, seperti Romeo dan Juliet, Lailah dan Majnun, tidak teruji melalui kehidupan bersama mereka sebagai suami istri. Karena itu, sekali lagi dikatakan bahwa cinta Rasulullah saw. Kepada Khadijah ra. Adalah puncak cinta yang diperankan oleh seorang laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya.
Sangat besar rasa cinta Rasulullah kepada Khadijah, sampai-sampai Aisyah mengatakan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah.
Maka aku pun berkata kepadanya, “Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah…!”
Maka berkatalah Rasulullah, “Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapatkan anak.”
Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu, lalu berkata, “Bukankah ia (Khadijah) hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik darinya? (maksud Aisyah yang menggatikan Khadijah adalah dirinya). Maka Belaiu pun marah sampai berguncang rambut depannya. Lalu Beliau bersabda, “Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik darinya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadu anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.”
Maka aku berkata dalam hati,” Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”
Ketika Aisyah ingin menampakkan kelebihannya atas Khadijah, ia berkata kepada Fatimah ra., putri Nabi dari Khadijah ra.: “Aku gadis ketika dinikahi ayahmu sedang ibumu adalah janda ketika dinikahi ayahmu.” Rasul saw. Yang mendengar ucapan ini dari putrinya yang mengeluh bersabda: “Sampaikanlah kepadanya ‘Ibuku (maksudnya Khadijah ra) lebih hebat dari engkau, beliau menikahi ayahku yang jejaka, sedang engkau menikahinya saat beliau duda.”
Disamping itu Rasulullah tidak memadu Khadijah dengan wanita lain, sedang semua istri selainnya dimadu.
Teman-teman Khadiijah pun masih diingat oleh Rasul dan berpesan kepada putri-putri beliau agar terus menjalin hubungan kasih dengan mengirimkan hadiah-walau sederhana- kepada mereka.
Ketika Fath Makkah, yakni hari keberhasilan rasul saw memasuki kota Mekkah bersama kaum Muslim, beliau berkunjung ke lokasi rumah Khadijah ra., karena rumah itu sendiri telah tiada. Beliau juga-pada hari itu- menyendiri, di tengah kesibukan bersama pasukan kaum Muslim, dengan seorang wanita tua sambil bercakap-cakap dengan wajah berseri-seri. Aisyah ra yang melihat hal tersebut bertanya:”Siapa orang itu dan apa yang dibicarakannya?” Ternyata wanita tua itu sobat karib Khadijah ra dan pembicaraan Nabi saw dengannya berkisar pada kenangan manis masa lalu.
Gerak langkah suara dan ketukan pintu yang biasa dilakukan Khadijah ra pun terus segar dalam benak dan pikiran beliau. Suatu ketika beliau mendengar ketukan dan suara serupa. Beliau berkomentar:”Ini cara ketukan Khadijah. Saya duga yang dating adalah Hala ( saudara perempuan Khadijah ra.) dan ternyata dugaan beliau benar.
Demikianlah keagungan cinta Rasulullah swa. kepada Khadijah ra. Yang akan tetap terukir indah sepajang zaman.
tahu dengan lagu ini..?
"Siti Khadijah mujahidah solehah.. Agung jasamu dipersada sejarah.. Pemergianmu ditangisi nabi.. Hingga kini tiada pengganti...
Sunyi jalan menuju Allah.. Menggamit hati mencari teman.. Indah jalan menuju Allah.. Jika teman seperti Khadijah.. Masih ada lagi..."
Cinta sejati dan kesetiaan mencintai diukur setelah perkawinan, bahkan lebih terbukti setelah kepergian yang dicintai. Kendati Nabi Muhammad saw. Sangat mencintai Aisyah ra., namun cinta beliau kepada Siti Khadijah ra. pada hakekatnya melebihi cintanya beliau kepada Aisyah ra., bahkan cinta itu melebihi semua cinta yang dikenal umat manusia terhadap lawan jenisnya. Sementara hikayat tentang cinta, seperti Romeo dan Juliet, Lailah dan Majnun, tidak teruji melalui kehidupan bersama mereka sebagai suami istri. Karena itu, sekali lagi dikatakan bahwa cinta Rasulullah saw. Kepada Khadijah ra. Adalah puncak cinta yang diperankan oleh seorang laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya.
Sangat besar rasa cinta Rasulullah kepada Khadijah, sampai-sampai Aisyah mengatakan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah.
Maka aku pun berkata kepadanya, “Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah…!”
Maka berkatalah Rasulullah, “Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapatkan anak.”
Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu, lalu berkata, “Bukankah ia (Khadijah) hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik darinya? (maksud Aisyah yang menggatikan Khadijah adalah dirinya). Maka Belaiu pun marah sampai berguncang rambut depannya. Lalu Beliau bersabda, “Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik darinya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadu anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.”
Maka aku berkata dalam hati,” Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”
Ketika Aisyah ingin menampakkan kelebihannya atas Khadijah, ia berkata kepada Fatimah ra., putri Nabi dari Khadijah ra.: “Aku gadis ketika dinikahi ayahmu sedang ibumu adalah janda ketika dinikahi ayahmu.” Rasul saw. Yang mendengar ucapan ini dari putrinya yang mengeluh bersabda: “Sampaikanlah kepadanya ‘Ibuku (maksudnya Khadijah ra) lebih hebat dari engkau, beliau menikahi ayahku yang jejaka, sedang engkau menikahinya saat beliau duda.”
Disamping itu Rasulullah tidak memadu Khadijah dengan wanita lain, sedang semua istri selainnya dimadu.
Teman-teman Khadiijah pun masih diingat oleh Rasul dan berpesan kepada putri-putri beliau agar terus menjalin hubungan kasih dengan mengirimkan hadiah-walau sederhana- kepada mereka.
Ketika Fath Makkah, yakni hari keberhasilan rasul saw memasuki kota Mekkah bersama kaum Muslim, beliau berkunjung ke lokasi rumah Khadijah ra., karena rumah itu sendiri telah tiada. Beliau juga-pada hari itu- menyendiri, di tengah kesibukan bersama pasukan kaum Muslim, dengan seorang wanita tua sambil bercakap-cakap dengan wajah berseri-seri. Aisyah ra yang melihat hal tersebut bertanya:”Siapa orang itu dan apa yang dibicarakannya?” Ternyata wanita tua itu sobat karib Khadijah ra dan pembicaraan Nabi saw dengannya berkisar pada kenangan manis masa lalu.
Gerak langkah suara dan ketukan pintu yang biasa dilakukan Khadijah ra pun terus segar dalam benak dan pikiran beliau. Suatu ketika beliau mendengar ketukan dan suara serupa. Beliau berkomentar:”Ini cara ketukan Khadijah. Saya duga yang dating adalah Hala ( saudara perempuan Khadijah ra.) dan ternyata dugaan beliau benar.
Demikianlah keagungan cinta Rasulullah swa. kepada Khadijah ra. Yang akan tetap terukir indah sepajang zaman.
" Berselimut Surban Cinta "
Ya Rabb, bila aku seperti burung puntun itu, tentu aku bebas terbang kian kemari sesuka hati. Bahkan, dengan kelembutan hati mampu menjinakkan ”kerbau-kerbau” hitam yang jalang sekalipun. Tapi, kini ”sayap-sayap”-ku ”patah” dalam luka lara dibadai Cinta Fatamorgana
Aku tak tahu, apakah aku selalu meninggalkan jejak-jejak kerikil yang tajam pada kehidupan dan kemanusiaan. Dan, apakah aku mampu menjadi mawar yang berduri di kampung negeri, yang indah warnanya, harum semerbak baunya keluar kampung. Ya, primadoa desa.
Kecantikan seorang gadis adalah citra dan cita alam dianugrahkan oleh ilahi, sedangkan kecantikan seorang nenek adalah lukisannya di atas kanvas kehidupan.
Aku pun bertanya, bukankah aku harus meninggalkan jejak-jejak telapak kaki yang melahirkan rumput yang bergoyang. Tapi, apa daya aku seorang wanita yang sulit menangkap makna dalam realitas antara realita antara cinta dan nestapa
Memang manusia tak meyesali seja yang pergi menjemput malam, karena setelah senja memang malam harus hadir walaupun tanpa rembulan
Aku pun tak meratapi malam yag pekat, karena lamanya malam akan berakhir dengan hadirnya sang fajar yang diiringi kokok ayam dan meluncurnya mentari di kala pagi bersemi.
Aku melewati jurang berkerikil tajam, walau hanya telapak kakiku yang luka lara. Namun, suatu saat nanti, tingginya ngarai cinta, apakah tidak akan menjatuhkan pada jurang yang dalam? Wallahu a’lam.
Lalu, mampukah aku menjadi bunga berduri di kampung negeri, atau malah aku dipermainkan oleh derasnya ombak dari danau kerinci hingga terhempas di ujung pasir? Atau, malah aku menjadi gelombang yang ”melawan”dengan membawa”energi ekstra” untuk menghalang badai dan gelombang dari Danau Kerinci yang luas itu?
Kepak ”sayap”-ku tak boleh patah, karena aku ingin seperti burung puntun di tepi Danau Kerinci itu; warnanya putih bersih, ia bebas kian kemari sesuka hati tanpa ada yang menghalangi, ia mampu berdiri kukuh di atas punggung kerbau hitam yang jalang, termasuk untuk memberikan secercah kesadaran yang abadi. Duh, .... ilahi, kuatkan iman ini dan kokohkan kakiku untuk mampu berdiri diatas ”khitah” kesejatian diri.
Batinku tidak membatu, tapi ia seperti”batu”yang kukuh dan tegar dihantam badai dan gelombang dari Danau Kerinci dalam jiwa sunyi.Ya, kegagalan, kegalauan, keputusaasaan, dan pesimistis tidak akan pernah”mengancam jiwa yang kukuh.
Likuan yang bertabur kamboja pun tidak boleh bermain dalam hati dan pikiranku. Karena, yang lalu adalah kenangan yang menjadi nostalgia dalam tawa bahagia maupun derita yang membahana. Saat ini adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan komitmen sejati dalam hati. Dan, hari esok adalah harapan yang tiada pasti.
Masih besar harapanku terhadap cita-cita, tentu juga cinta. Karena bumi tidak bertiang, langit pun tak berjunjung. Harapan pun belum sirna. Aku harus bangkit, meletakkan ”daftar” kesalahanku berada di depan”kaca” untuk kuketahui kekuranganku selama ini, lalu bangkit untuk memperbaiki diri. Dan aku pun harus meletakkan daftar kebaikanku di punggungku, supaya aku lupa berapa banyak kebaikan yang telah kuperbuat. Mungkin disanalah substansi keikhlasan akan kudapatkan.
Apakah hatiku harus seperti masjid kampus yang tanpa penghuni atau seperti kamboja dalam likuan kesedihan dan luka hati ?
Ya Allah, siapakah laki-laki itu yang menyatakan nisan kemanusiaan?
Duh ... iLahi, sungguh sayang aku ntidak menjawab salam dari laki-laki yang berlalu dalam kesunyian hatiku. Aku hanya mendengarkan teriakannya yang menggetarkan batinku.
Ya Allah, suatu saat nanti pertemukanlah aku dengan laki-laki yang memahami ”misteri” dari bilik hatiku ini. Entah dimana musim apabila aku berjumpa dengannya; laki-laki yang berlari dalam sunyi
Aku yakin, kala hati terisi perasaan tiada tara yang disebut Cinta dan mersakan kedalaman, keindahan, dan kebahagiaan. Karenanya, aku menyadari bahwa dunia telah berubah.
Berselimut Surban Cinta
Ya Rabb, bila aku seperti burung puntun itu, tentu aku bebas terbang kian kemari sesuka hati. Bahkan, dengan kelembutan hati mampu menjinakkan ”kerbau-kerbau” hitam yang jalang sekalipun. Tapi, kini ”sayap-sayap”-ku ”patah” dalam luka lara dibadai Cinta Fatamorgana
Aku tak tahu, apakah aku selalu meninggalkan jejak-jejak kerikil yang tajam pada kehidupan dan kemanusiaan. Dan, apakah aku mampu menjadi mawar yang berduri di kampung negeri, yang indah warnanya, harum semerbak baunya keluar kampung. Ya, primadoa desa.
Kecantikan seorang gadis adalah citra dan cita alam dianugrahkan oleh ilahi, sedangkan kecantikan seorang nenek adalah lukisannya di atas kanvas kehidupan.
Aku pun bertanya, bukankah aku harus meninggalkan jejak-jejak telapak kaki yang melahirkan rumput yang bergoyang. Tapi, apa daya aku seorang wanita yang sulit menangkap makna dalam realitas antara realita antara cinta dan nestapa
Memang manusia tak meyesali seja yang pergi menjemput malam, karena setelah senja memang malam harus hadir walaupun tanpa rembulan
Aku pun tak meratapi malam yag pekat, karena lamanya malam akan berakhir dengan hadirnya sang fajar yang diiringi kokok ayam dan meluncurnya mentari di kala pagi bersemi.
Aku melewati jurang berkerikil tajam, walau hanya telapak kakiku yang luka lara. Namun, suatu saat nanti, tingginya ngarai cinta, apakah tidak akan menjatuhkan pada jurang yang dalam? Wallahu a’lam.
Lalu, mampukah aku menjadi bunga berduri di kampung negeri, atau malah aku dipermainkan oleh derasnya ombak dari danau kerinci hingga terhempas di ujung pasir? Atau, malah aku menjadi gelombang yang ”melawan”dengan membawa”energi ekstra” untuk menghalang badai dan gelombang dari Danau Kerinci yang luas itu?
Kepak ”sayap”-ku tak boleh patah, karena aku ingin seperti burung puntun di tepi Danau Kerinci itu; warnanya putih bersih, ia bebas kian kemari sesuka hati tanpa ada yang menghalangi, ia mampu berdiri kukuh di atas punggung kerbau hitam yang jalang, termasuk untuk memberikan secercah kesadaran yang abadi. Duh, .... ilahi, kuatkan iman ini dan kokohkan kakiku untuk mampu berdiri diatas ”khitah” kesejatian diri.
Batinku tidak membatu, tapi ia seperti”batu”yang kukuh dan tegar dihantam badai dan gelombang dari Danau Kerinci dalam jiwa sunyi.Ya, kegagalan, kegalauan, keputusaasaan, dan pesimistis tidak akan pernah”mengancam jiwa yang kukuh.
Likuan yang bertabur kamboja pun tidak boleh bermain dalam hati dan pikiranku. Karena, yang lalu adalah kenangan yang menjadi nostalgia dalam tawa bahagia maupun derita yang membahana. Saat ini adalah kenyataan yang harus dihadapi dengan komitmen sejati dalam hati. Dan, hari esok adalah harapan yang tiada pasti.
Masih besar harapanku terhadap cita-cita, tentu juga cinta. Karena bumi tidak bertiang, langit pun tak berjunjung. Harapan pun belum sirna. Aku harus bangkit, meletakkan ”daftar” kesalahanku berada di depan”kaca” untuk kuketahui kekuranganku selama ini, lalu bangkit untuk memperbaiki diri. Dan aku pun harus meletakkan daftar kebaikanku di punggungku, supaya aku lupa berapa banyak kebaikan yang telah kuperbuat. Mungkin disanalah substansi keikhlasan akan kudapatkan.
Apakah hatiku harus seperti masjid kampus yang tanpa penghuni atau seperti kamboja dalam likuan kesedihan dan luka hati ?
Ya Allah, siapakah laki-laki itu yang menyatakan nisan kemanusiaan?
Duh ... iLahi, sungguh sayang aku ntidak menjawab salam dari laki-laki yang berlalu dalam kesunyian hatiku. Aku hanya mendengarkan teriakannya yang menggetarkan batinku.
Ya Allah, suatu saat nanti pertemukanlah aku dengan laki-laki yang memahami ”misteri” dari bilik hatiku ini. Entah dimana musim apabila aku berjumpa dengannya; laki-laki yang berlari dalam sunyi
Aku yakin, kala hati terisi perasaan tiada tara yang disebut Cinta dan mersakan kedalaman, keindahan, dan kebahagiaan. Karenanya, aku menyadari bahwa dunia telah berubah.
Kapan Rindu Berbunga di Sekeping Hati ?
Kapan Rindu Berbunga di Sekeping Hati ?
Rindu berbunga di sekeping hati, akan berbunga apabila
Antara aku dan kamu telah melebur menjadi kita. Disana
Tiada ego( ananiyah) yang harus menjadikan yang lain sebagai ”terdakwa” di sidang kemarahan hati dan kejalangan nurani. Kita adalah satu suara dari aku dan kamu.
Kita senasib sepenanggungan walaupun nasab yang berbeda. Kita satu tujuan pemikiran walaupun logika yang bermain sebelum ”pertemuan” kita itu beraneka dugaan dan persangkaan yang semuanya bermain dalam logika aku dan kamu
Kapan Rindu Berbunga di Sekeping Hati ?
Rindu berbunga di sekeping hati, akan berbunga apabila antara kami dan mereka berkumpul menjadi kita. Disana tiada lagi primodialiseme dan ego kesukuan, ego nasab, ego partai, ego organisasi, ego jenis kelamin, dan semuayang dapat dijadikan ego untuk memperlihatkan hegemoni atas ”kekuasaan” kelompok yang satu dengan klaim kebenaran kelompok yang lainnya.
Bisik Hatiku
Tak terasa …
Kini aku
Menginjak dewasa …
Aku mulai tau
Apa artinya cinta & dilema
Cinta … oh Cinta …
terkadang
Membuat hati bahagia
Bahkan bisa terluka
Teringat selalu
Masa kecilku
Bermain bercanda
Tertawa riang
Hatipun senang
Tapi … taukah sekarang ?
Hatikupun bimbang
Ketika melihat
Pangeran tampan
Diapun datang
Menghampiri-ku
Diapun bertanya
Siapakah nama-mu?
Wahai gadis manis ,
Akupun hanya tersenyum
Tersipu malu …
KIDUNG CINTA SANG PUJANGGA HATI
Dear Diary … On Saturday At 21.50 pm
Ya Allah …Ya Robb …
Rindu ini smakin melaut
Jiwa & hati ini ingin segra berlabuh
Pada Dermaga Cinta Sang Raja
Karana akulah Ratunya
Ya Allah … Ya Robb …
Dekatkanlah jiwaku dengan jiwanya
Satukanlah kami dalam rengkuhan Ridlo – Mu
Dalam “ Ikatan Cinta Suci “
Yang terlahir dari murninya hati
Kaulah Cinta Pertama
Yang mengawali Cinta Berikutnya
Cinta Yang Agung
Yang mengantarkan
Sepasamg Insan
Dimabuk Asmara
Ya Allah …Ya Robb …
Janganlah biarkan kami
Terjerumus ke limbah zina
Oleh perbuatan nista
Hanya karma pandangan kala itu
Mata kami saling menatap
Namun senantiasa tetap terjaga
Hati kami bergetar
Jantung kami berdebar
Serasa dekat
Telah saling mengenal
Mulut kamipun tak sempat berucap
Hendak bertutur akan gejolak jiwa
Raga kamipun
Tak lagi sempat ‘tuk bersua
Usai perjumpaan kala itu
Yang sedemikian indahnya
Smoga kami di Ridloi Sang Pencipta
‘tuk Hidup Bersama
Kala waktunya tiba
Yang ‘kan datang menjemput kami
Yang telah mengikrarkan Janji Setia
Mengarungi Bahtera Rimba Dunia
Bermodal Akhlak Nan Mulia
Melahirkan Generasi Ihsani
Penerus perjuangan Lillah Billah kami
Hingga kamipun Menutup Mata
Mengakhiri Lelahnya Kemewahan Dunia
Menjemput Keabadian yang Nyata
Menikmati Indahnya Surga
Kamipun tetap bersama
Saling menjaga
Dalam Rengkuhan Kuasa –Nya
Kabulkanlah Do’a kami Ya Robb …
Allahumma AMIIN …
Langganan:
Komentar (Atom)