Rabu, 27 Oktober 2010

Catatan Zaman

Negeri cina kepunyaan kami, negeri arab kepunyaan kami, AL-IsLam adalah cara hidup kami , India milik kami dan kesemuanya milik kami, seluruh dunia adalah tanah air kami ,
Mentauhidkan Allah cahaya kami, Kami sediakan roh untuk menyambutnya, Dunia akan hancur tetapi tidak akan terpadam, keagungan kami dari catatan zaman,
Bumi ini rumah peribadatan kami . rumah yang pertama ialah ka’bah kami, itulah rumah pertama yang akan kami jaga, akan kami jaga dengan hayat dan roh,

Dibawah naungan Islam kami di didik, kami bina kedaulatan Negara kami,
Alam Islam yang telah berlalu, menjadi kebanggaan kebesaran kami,
Seruan muslim telah menyebabkan,
Kegemparan di barat karena kemuliaan kami
Katakan kepada langit sesungguhnya,
Ketinggian kami melebihi bintang
Wahai sejarah kau telah menguji dengan ...
Api kesulitan ke atas keazaman kami,
Taufan kebatilan gagal mengaramkan
Karena ketakutan kekuatan kapal kami !
Wahai naungan taman andalus,
Lupakah kau yang kita pernah bersama,
Dan dahan-dahan serta sarang burung,
Memenuhi kebangkitan perlembagaan kami,
Wahai bumi cahaya dari dua tanah haram,
Wahai tempat lahirnya syariah kami,
Taman Islam dan pohonnya yang rindang,
Darah kami telah membasahi tanahmu

Kami memerintah dunia ini berabad-abad,
Nenek moyang kami kekal menaklukinya,
Lembaran-lembaran budaya membanggakan kegemilangan kami,
Zaman tidak melupainya, kami juga tidak melupainya
Dan kami jika mereka tidak meantang kami,
Dengan kekejaman, akan kami pijak- pijak dahinya,
Penuh di hati petunjuk yang kuat,

Kami tidak akan mengelipkan mata, tidak kami biarkan kezaliman,
Di suatu masa kami, kami bina kerajaan di muka bumi,
Dibantu oleh para pemuda yang kuat semangatnya,

Mereka tidak mengenali Islam sebagai cara hidup,

Mereka dijaga, maka mereka dipelihara dengan pemeliharaan,
Yang mulia, mengharumi dunia sebagai cabang kami,

Apabila mereka melihat peperangan, semangat pun berkobar,
Lalu mereka musnahkan penjara dan kubu pertahanan ( musuh)

Minggu, 24 Oktober 2010

REFLEKSI KEINDAHAN

Subhanallah,bgitu indahnya bunga itu nampak kuning kebiru-biruan. Lalu siapakah yg memberi warna itu ? daunnya pun terlihat hijau dan berstruktur sdemikian indahnya. Aku ingin menjadi bunga yg keindahannya tiada tara,yg memiliki berjuta warna,semerbak harumnya, snantiasa ditemani kupu-kupu cantik nan lucu, para kumbangpun tak kalah utk menyambangiku mereka meminta madu, yach.. apakah aku semanis madu ??

Wahai Bunga, berikan aku sdikit saja warna cantikmu ? berikan pula rasa manisnya madu yg ada pd mu. Berikan keharuman pd aroma mu. Berikan kedamaian hijau pd daunmu. Berikan sejuknya tetesan embun di stiap pagi yg mulai menyapa mu. wahai Bunga, Berkenankah kiranya? Kau berikan apa yg tlah kuminta.. ku mohon jadikanlah aku sepertimu.. jk kau benar-benar memberikan apa yg aku mau, aku tak kan iri lagi pd mu ,untuk itu kabulkanlah permohonanku,, wahai Bunga

Subhanallah, namun apa yg aku harapkan ternyata tak kunjung datang. Hanya diam yg dilakukan oleh Sang Bunga. Kenapa? Kenapa kau hanya diam begitu saja, padahal aku hanya ingin meminta sedikit darimu, apa itu tak boleh? Wahai Bunga,dengarkan aku.. kabulkanlah apa yg tlah kuminta darimu.. janganlah diam seperti itu ,kau kan tahu aku ingin Cantik sepertimu.

Wahai bunga, knapa kau tetap diam? Meski kau tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku , kamu harus mengabulkan permohonanku. (dengan sdikit membentak aku terus menyudutkan sang bunga agar dia segera memenuhi apa yang aku minta ) lalu tiba-tiba aku mendengar isakkan tangis tersedu-sedu. Siapakah gerangan? Akupun penasaran ,ku toleh kanan & kiri ternyata tak ada siapa-siapa. Lantas, siapakah yg menangis? Aku mencari sumber tangisan itu, aku berlari ke segala arah agar segera menemukannya. Namun aku bingung, tak tahu harus kemana lagi? Padahal tangisan itu masih terdengar oleh-ku,akupun semakin bersemangat untuk segera menjumpainya.
Diantara keletihanku tiba-tiba aku terjatuh lalu tersungkur dalam diam,ku coba merenung dan menerka siapakah yg menangis itu? dlm detik-detik perenungan aku teringat akan sesuatu hal, yach .. sesuatu yg pd akhirnya membuatku malu,malu pd semuanya.., ini memang salahku, kesalahan yg tak pernah kusadari hingga hal itu membuat deraian air mata sang bunga menetes tanpa sepengetahuanku bahwa itu hal terjadi karena sikap kegoisan dan ketamakanku,

Astaghfirullahal’adzim .. ampuni hamba Ya Rabb, akhirnya ku temukan darimana isakan tangisan itu berasal,dia adalah sang Bunga yg telah menetaskan air matanya dan isakanya pun terdengar olehku,namun aku tak menyangka bahwa akulah penyebab Sang Bunga menjadi sedih bahkan menangis , maka tak lama kemudian akupun melontarkan pertanyaan :” wahai bunga, sebelumnya aku minta maaf , bolehkah ku tahu kenapa engkau menangis ? dan kini kau tampak layu, warnamu telah memudar, semerbak wangimu pun tak tercium lagi, sejuk hijaumu pun menghilang, kemanakah semua itu ? wahai bunga ?

Lalu diantara isak tangisnya yang masih tersisa, sang bunga pun menjawab, kini dia mulai bicara yach dia memang benar-benar berbicara, dan akhirnya aku telah mendengar tutur katanya,, untaian kata yg penuh makna , menyadarkan atas khilafku yg tlah ku perbuat, yach Sang Bunga berkata kepadaku : wahai gadis, betapa Allah telah memberimu segala keindahan hingga sebenarnya kau tak perlu iri kepada ku ,keindahan itu terletak apa akhlak / budi pekertimu, indahnya tutur katamu yang terucap, keindahan perhiasan yg kau miliki seperti indahnya sejuntai rambutmu namun itu harus kau selimuti dengan kerudung keimanan. Sebab sebaik-baik perhiasan adalah Wanita Sholehah.

Subhanallah,seusai Sang BUNGA menuturkan kata-kata indahnya.aku pun tersadar akan atas khilaf ,keegoisan, kesombongan, ketamakan dan hal2 buruk yang lain harus aku hilangkan agar aku bisa meneladani sang Bunga. Dan menjadi indah dgn sgala karunia yg diberikan Allah Swt serta snantiasa mensyukurinya.

Kamis, 21 Oktober 2010

Maaf " Sang obat mujarab terindah penyempurna Ukhuwah"

Istriku, Maafkan Suamimu
Bagikan
Minggu pukul 14:19
Permintaan maaf adalah kata yang selayaknya sering diucapkan untuk melanggengkan hubungan suami isteri, sehingga bahtera rumah tangga berhasil mencapai tujuan.

"Duhai sayang, maafkan saya"... "Aku tiada bermaksud demikian"... "Aku telah salah dalam memberikan hakmu" ... adalah ungkapan-ungkapan yang sering kita gunakan tetapi memiliki satu makna, yaitu meminta maaf yang merupakan terminal yang pasti akan kita lalui dalam melanggengkan kehidupan suami istri dari keruntuhan dan kehancuran.

Sesungguhnya suami isteri secara bersama, masing-masing memiliki saham dalam keberhasilan dan kebahagiaan keluarganya, lalu kenapa salah seorang di antara mereka berdua memunculkan kalimat "kebencian" pada saat muncul masalah!!! Andai salah seorang dari mereka berdua berbuat salah, lalu ia meminta maaf kepada pasangannya, apakah hal ini akan menghinakan dirinya?

Jika seperti itu sikap suami isteri, tentulah kehidupan mereka akan mengalami satu dari dua hal:
mungkin akan langgeng rumah tangganya tetapi kurang harmonis dan banyak perselisihan,
dan mungkin juga akan berujung kepada hancurnya kehidupan suami isteri, cerai.
Kehidupan suami isteri itu ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar, padanya ada nahkoda dan awak kapal. Semua yang ada di dalam kapal itu bahu-membahu berusaha menyelamat kan kapal yang mereka tumpangi pada saat saat kapal ditimpa badai agar semuanya selamat dan sampai ke "pulau idaman".

Demikian juga halnya suami, Allah menjadikannya sebagai pemimpin bahtera rumah tangga, pelindung, dan pengayom bagi keluarga, bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Kepemimpinan yang diembannya itu adalah tugas,bukan intimidasi atas kesewenang-wenangan.

Maka suami yang baik adalah orang yang memahami kebutuhan dan perasaan isterinya, dan menjadikan tampuk kepemimpinannya penuh dengan kasih sayang, kesejukan dan kedewasaan, tidak mudah emosi, namun tetap tegas pada saat harus bersikap tegas !!!

Akan tetapi, sebagian suami yang meremehkan tugas ini memahami, bahwa meminta maaf kepada istri akan menghinakan dirinya sebagai laki-laki, bahkan ia berpendirian bahwa kemuliaannya tidak membolehkan dirinya untuk mengucapkan kalimat "Istriku, maafkan aku, aku salah" kepada isteri-nya, bagaimanapun keadaannya. !!!

Maka, keegoannya terus ia pertahankan dan istri selalu diposisikan "bersalah", ia tidak pernah meminta maaf kepadanya, yang kemudian menyeretnya kepada kehancuran rumah tangga dan kalimat "cerai" pun tak terhindarkan, padahal sangat mungkin rumah tangga itu bisa dilanggengkan dengan ucapan "maafkan suamimu, sayang".

KETIKA "RASA GENGSI" IKUT CAMPUR

Seorang istri pernah menceritakan tentang pengalamannya:

Dahulu, kehidupanku bersama suamiku demikian bahagia. Akan tetapi itu semua berubah ketika terjadi beberapa percekcokan tentang urusan rumah. Waktu itu aku tinggal bersama di rumah mertuaku, maka aku memutuskan untuk pindah dan keluar dari rumah mertuaku, walaupun sendirian. Suamiku menolak rencanaku dan menjelaskan, bahwa ia suatu hari nanti akan bisa memiliki rumah sendiri.

Dan terkadang suamiku memberi alasan tidak bisa meninggalkan ibunya, dan lain-lain, sampai suatu hari, terjadilah perselisihan antara aku dengan suamiku. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah mertuaku dan kembali ke rumah orang tuaku, dan aku katakan, jangan menjenguk atau menjemputku sebelum engkau memiliki rumah sendiri. Maka, aku dan suamiku pun sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing.

Dan sungguh aku pun akhirnya menyesali perbuatanku. Akan tetapi aku ingin mengetahui sejauh mana kedudukanku di sisi suamiku. Ternyata, suamiku bersikukuh tidak mau memaafkanku dan tidak berusaha meredakan suasana.

Ia mengatakan, "Bertobatlah kepada Allah, dan kembalilah ke rumah ini, jika kamu tidak mau tobat, maka cukup bagiku untuk menceraikanmu."

Demikianlah kepribadian kebanyakan suami, dan sangat sedikit yang bersikap dewasa. Bahkan di antara mereka ada yang sampai tidak mau mengasihi dan menyayangi isterinya, walaupun hanya dengan satu kata yang dicintai isterinya apalagi sampai mau memaafkan isterinya tersebut.

Seorang istri lagi menuturkan:

Para suami kita, sangat disayangkan sekali, mereka sangat mudah mengungkapkan kata-katanya kepada kita, kecuali "ungkapan maaf", bagaimana pun keadaannya. Suamiku sangat temperamental, tabiatnya keras dalam mempergauliku. Ia selalu mengucapkan ungkapan-ungkapan kasar kepadaku, bahkan ia pun pernah memukulku. Dan aku tetap bersabar sekalipun aku dalam posisi yang benar. Tetapi suamiku tidak mau mengubah pendiriannya sampai akhirnya aku yang meminta maaf kepadanya, baik yang salah adalah aku ataupun sebaliknya.

Dengan berlalunya waktu sekian tahun, sikap suamiku kepadaku bertambah jelek, hingga memupus kesabaranku. Setelah terjadi perselisihan antara aku dan suamiku, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Aku menunggu, semoga suamiku mau datang dan meminta maaf atas perilakunya selama ini atau barangkali ia mau menelponku. Akan tetapi ia tidak melakukan itu semua, sampai aku mendengar tentang dirinya, ia merasa selama ini bersalah, kini menyesal atas perbuatannya yang telah menzhalimi aku. Akan tetapi, ia tidak mau meminta maaf kepadaku, karena keegoisan dan kegengsiannya serta merasa menjadi hina dengan hal itu. Hingga terjadilah cerai atas permintaanku.

Adapun kisah Abu Khalid, ia mengatakan, "Habis sudah kehidupan ku bersama isteriku, padahal aku mencintainya, akan tetapi dengan sebab ketidakharmonisan, dan aku enggan meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya aku menerlantarkan anak-anakku hidup tanpa ibu."

Masalahnya adalah, bahwa isteriku adalah karyawati. Maka, aku katakan padanya berkali-kali untuk meninggal kan pekerjaannya dan berkonsentrasi mengurus anak-anak. Akan tetapi isteriku menolak membicarakan masalah itu. Dan ketika aku larang dia berangkat ke kantor, terjadilah perselisihan antara aku dengan dia. Dan aku terpeleset salah dalam berkata, aku mengatainya agak lama, maka ia pun pergi pulang ke rumah orang tuanya.

Maka, ia pun mengingatkan agar aku meminta maaf dan mengetahui kesalahanku ketika mengatai dirinya. Akan tetapi aku menjadi sombong dan aku pun menceraikannya hanya untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki. Kini aku benar-benar menyesal dengan penuh penyesalan.

TERAPI JIWA ADALAH SOLUSINYA

Dr. Najwa Ibrahim, seorang Guru besar Psikologi menjelaskan, bahwa pendidikan dan latar belakang hidup seseorang bisa berdampak sangat penting dalam cepatnya dia meminta maaf atau tidak. Beliau berkata, di antara sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:

Metode pendidikan yang telah memberi pengaruh kepadanya sehingga dia begitu sulit meminta maaf atau mengungkapkan kata "maaf" .
Diantara metode ini adalah metode yang ditanamkan kepada kita ketika kecil dalam meminta maaf, baik suka atau tidak. Meminta maaf dikaitkan dengan emosi dan dari pihak yang kalah.
Pandangan atau keyakinan yang tidak rasional yang tertanam didalam fikiran kita dan begitu besar dampaknya adalah "bahwa laki-laki tidak boleh meminta maaf kepada perempuan";
Anggapan, orang yang meminta maaf itu lemah kepribadiannya.
Maka, sudah semestinya seorang suami atau isteri merasa, bahwa ketika perilakunya menimbulkan kemarahan atau melukai perasaan pasangannya, ungkapan "maaf" lah yang bisa menghilangkan "ketersinggungan hati dan mencairkan ketegangan".

Meminta maaf pada saat yang tepat juga bisa menghilangkan banyak hal yang bisa merusak hubungan suami isteri, andai tidak segera dieliminir.

MEMINTA MAAF ADALAH SIFAT JANTAN

Dr. Muhammad Musthafa, Guru Besar psikologi dan sosiologi Univ. Malik Su'ud, mengatakan bahwa meminta maaf adalah merupakan wujud sifat jantan dari seorang suami atau siapapun yang berbuat salah. Meminta maaf bukan sifat yang dimiliki oleh orang yang lemah, sebagaimana persangkaan sebagian orang, di mana mereka mengatakan:

Semua orang pernah berbuat salah, namun sedikit orang yang jantan meminta maaf dari kesalahannya kepada orang lain. Apalagi jika yang dimintai maaf itu adalah isterinya. Sebab, setiap suami berbeda-beda cara dan tabiatnya. Sebagian meminta maaf dengan cara tidak langsung akan tetapi mencapai tujuan dan sebagian menghindar dari masalah yang ia alami karena demi masa depan dan kejiwaan anak-anaknya yang akan hancur bila mereka berpisah. Ada sebahagian suami yang berlebih-lebihan, ia menolak meminta maaf karena gengsi dan egois, padahal para pakar psikososial menyatakan bahwa meminta maaf bukanlah hal yang jelek.

Maka, meminta maaf adalah sesuatu yang mesti dilakukan, dan bagi orang yang bersalah lebih ditekankan lagi. Apabila seseorang berbuat salah, maka tidak ada yang layak baginya selain meminta maaf.

Orang yang bersikukuh menolak meminta maaf kepada pasangannya dengan alasan akan mengurangi kehormatannya, maka orang yang demikian terkena penyakit jiwa. Sebab, diantara sifat kemuliaan adalah meminta maaf ketika berbuat salah kepada orang lain.

ADA APA DENGAN SIFAT LAKI-LAKI

Sifat kejantanan mengarahkan seseorang untuk meminta maaf jika berbuat salah kepada isterinya atau kepada orang lain. Sebab jantan berarti jujur dan luhurnya budi pekerti. Di saat seorang suami meminta maaf, maka ia tidak jatuh di mata isterinya atau akan jatuh harga dirinya sebagaimana gambaran sebagian suami. Bahkan itu akan mengangkat kedudukannya di mata isterinya; sebab itu akan menjadi pelajaran dalam amanah dan keluhuran budi dan kehormatan itu sendiri.

Maka, meminta maaf bukan merupakan kelemahan, bahkan kelemahan itu sendiri adalah seseorang menyembunyikan kesalahannya dan berlindung dibalik kesombongan dan bersikukuh dengannya.

Dan banyak problem suami isteri diawali dengan adanya kesombongan sang suami dan enggan untuk meminta maaf kepada isterinya ketika ia mema-rahi sang isteri. Maka, sudah semestinya para suami ingat, bahwa dengan ia meminta maaf atas kesalahan kepada isterinya, akan bisa mengembalikan "air" ke dalam alirannya, mengembalikan perasaan romatis, merekahnya kecintaan di antara kalian berdua, walaupun sifat kelaki-lakianmu merasa enggan untuk itu.

Mintalah maaf kepada istrimu atas kesalahan dan kelalaianmu, wahai para suami! Walau tidak kau sampaikan secara langsung. Sebab dengan itu rumah tangga akan menjadi damai, sejahtera dan harmonis.

Semoga!

Sumber: Majalah ad Dakwah

kpd keluarga muda dan bagi yg telah mengarungi bahtera rumah tangga moga tetap istiqomah sakinah mawaddah wa rahmah

Jumat, 01 Oktober 2010

untukmu Sahabat

Ada lembah sedalam kenangan,
Menggenang hati ke tepian
Ada samudra seluas kiasan,membentang nadi
Ketitian
Lembah itulah kasih sayang,
Samudra itulah pengorbanan
Terimalah persembahan dari setitik embun
Untukmu …
Mata air yang merankai kehidupan,
Semoga Allah meridhoi,keluarga seindah taman,
Firdausi

Amin..
Dengan Nama Allah, Subhanallah …

Merah itu tiada, biru itu sirna..
Dan kuning, berguguran
Mata itu ingin bicara , bibir itu ingin menyua
Dengarkanlah diamku
Jantungku debaran yg sama, kalbuku risalah serupa
Mekar kecintaan pada Tuhan,
Saat kucoba melarikan diri , ada satu titik tak berdimensi
Dengan induksi tak hingga , mereduksi resistensi keakuanku
Sujudku pertobatan , penyerahan total
Tak bergaransi …
Luruh segenap kepekatan , tak bernoktah ,
Oleh bingkai ukhwah, dalam pigura
Ruh keabadian yg hakiki
Ada sejuta kata yg tidak cukup untuk mewakili satu rasa,
Yang walau tak ada yg mempercayainya, teguh ku
Yakinkan
Ada dua kata yg bukan sekedar kata
Maaf dan terima kasih
Untuk semuanya